Kisah Inspiratif Islami : Ujian akhir seorang Santri

0
727

kisah inspiratif islami ujian akhir seorang santri

Kisah inspiratif Islami kali ini akan bercerita tentang ujian terakhir yang diberikan kepada seorang Santri sebelum dilepas oleh Gurunya untuk mulai mengabdi ke Masyarakat.

Mampukah ia lulus dalam ujian kali ini? Ataukah ia harus menghabiskan beberapa tahun lagi di Pesantren hingga bisa lulus dalam ujian selanjutnya?

Yuk kita simak kisah berikut ini.

Hari itu adalah hari terakhir si Santri di Pesantren yang sudah menggemblengnya selama beberapa tahun terakhir. Namun sebelum dinyatakan lulus oleh sang Guru, ia dipanggil untuk diberikan satu ujian terakhir.

Guru: “Dalam beberapa tahun ini kamu sudah belajar banyak hal di Pesantren ini. Namun sebelum kamu kembali ke Masyarakat dan saya nyatakan lulus, saya akan memberikan satu ujian lagi”.

Santri: “Baik Guru. Saya akan berusaha menyelesaikannya dengan baik”.

Dengan rasa optimis yang tinggi, si Santri menunggu ujian terakhir dari sang Guru. Ia yakin bahwa pemahamannya terhadap ilmu yang ditempanya selama ini sangatlah ia kuasai.

Guru: “Coba kamu pergi ke kampung sebelah, dan bawa ke hadapanku 1 Orang atau makhluk Allah yang tidak lebih baik dari kamu”

Mendengar permintaan seperti itu dari sang Guru, muncul dalam hatinya rasa bangga diri. Ahh, ini mah gampang. Dan ia pun bergegas berangkat ke kampung sebelah untuk menemukan orang atau makhluk yang dimaksud.

Dalam perjalanannya, ia melihat seorang laki-laki sedang mabok di sebuah warung. Setelah ia perhatikan dengan seksama, ia sangat yakin bahwa dialah orang yang dicarinya.

Ia pun mampir ke warung itu, memesan makanan, sambil terus memperhatikan perangai tukang mabok itu dengan sebotol Johny Walker di tangannya. Dan ia pun bertanya kepada pemilik warung.

“Permisi, apakah si fulan itu setiap hari mabok mabokan seperti itu?”, tanya si Santri.
“Iya, tiap hari ia makan di sini dan selalu bawa botol arak dari rumahnya”, jawab si pemilik warung.

Mendengar jawaban seperti itu, ia serasa menemukan angin surga. Rasa-rasanya memang benar dialah orang yang dicarinya untuk dibawa ke hadapan sang Guru.

Bukankah laki-laki itu suka mabok-mabokan? Sementara ia sendiri adalah ahli ibadah, hafal banyak kitab, dan sudah beberapa kali menghatamkan Al-Quran?

Ia berfikir bahwa sudah pasti laki-laki itu tidak lebih baik dari dia. Dan ia berencana untuk mengajaknya untuk menemui sang Guru.

Namun tiba-tiba suara Adzan Dzuhur sudah berkumandang. Ia pun bergegas pergi ke Masjid untuk menunaikan sholat dzuhur.

Selesainya sholat, ia mencoba menimbang-nimbang lagi keputusannya untuk membawa laki-laki pemabok tadi ke hadapan sang Guru. Ia harus benar-benar yakin bahwa ujian yang diberikan kepadanya kali ini bisa diselesaikannya dengan baik.

 “Astaghfirullah al Adziim”, ucapnya dengan spontan.

“Bisa jadi laki-laki itu sekarang mabuk-mabukan, namun di akhir hayatnya ia ditakdirkan bisa meninggal dengan Khusnul Khotimah. Sementara aku sendiri belum tahu nanti akan meninggal dalam keadaan seperti apa”, ucapnya dalam hati.

Ia pun terus beristighfar dan mengurungkan niatnya untuk membawa laki-laki tadi ke hadapan sang Guru, karena ia menyadari bahwa belum tentu ia lebih baik dari laki-laki pemabok tadi.

Kisah Inspiratif Islami ini pun berlanjut

Gagal mendapatkan orang yang dinilai tidak lebih baik dari dia, ia pun meneruskan perjalanannya menyusuri kampung itu.

Tiba tiba ia melihat seekor anjing buduk dengan kondisi banyak kudis di tubuhnya. Bulunya pun acak-acakan, ada yang ngruwel, ada juga yang botak gak beraturan.

Ia pun merasa bahwa inilah makhluk Allah yang tidak lebih baik dari dia dan bisa dia bawa untuk menghadap sang Guru.

Bagaimana tidak, sudah najis, budukan, haram lagi untuk dimakan. Begitu dia meyakinkan dirinya.

Namun seperti sebelumnya, dia pun sejenak menimbang-nimbang lagi keputusannya. Apa benar makhuk ini tidak lebih baik dari dia. Ia harus sangat hati-hati dalam mengambil keputusan karena akan menentukan apakah ia dinilai lulus atau tidak oleh sang Guru.

“Astaghfirullah al Adziim”, ucapnya lagi dengan keras.

“Sepertinya anjing ini belum tentu tidak lebih baik dari aku. Di hadapan Allah kelak, ia tidak harus mempertanggung jawabkan perbuatannya selama hidup di dunia. Sementara aku?

Aku harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanku di hadapan Allah”, ucapnya dalam hati.

Hari pun sudah mulai sore dan ia memutuskan untuk kembali menemui sang Guru dengan rasa kecewa karena merasa gagal dalam ujian kali ini.

Santri: “Maaf Guru, sepertinya saya gagal menemukan 1 Orang atau makhluk Allah yang tidak lebih baik dari saya”.

Mendengar jawaban dari Santri nya, sang Guru pun membalas dengan rasa Lega.

Guru: “Alhamdulillah. Ingatlah anakku, Allah tidak akan memberikan Surga kepada hambanya yang memiliki rasa Sombong meskipun hanya seberat biji sawi.

Dan kamu sudah menyadarinya sehingga tidak bisa menemukan 1 orang atau makhluk Allah pun yang tidak lebih baik dari kamu. Dengan demikian kamu saya nyatakan Lulus dalam ujian kali ini”.

Mendengar jawaban dari sang Guru, si Santri langsung sujud syukur. Ia tidak menyangka bahwa ujian kali ini sangatlah berkesan dan sangat berarti dalam hidupnya.

Itulah kisah inspiratif Islami tentang ujian akhir seorang Santri.

Inti dari cerita ini adalah jadilah manusia yang rendah diri, jauh dari rasa sombong. Jangan pernah merasa diri kita lebih baik dari orang lain, bahkan dari makhluk lain.

Dengan demikian, insyaallah kita akan menjadi manusia yang bermartabat dan mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here