Kisah nyata mengharukan suami istri yang ingin cerai

0
960

kisah nyata mengharukan suami istri yang ingin cerai

Kisah nyata mengharukan suami istri ini terjadi di Amerika Serikat. Seorang Suami memutuskan untuk menceraikan sang Istri yang sudah dinikahinya selama kurang lebih 10 tahun. Mereka pun sudah dikaruniai seorang anak yang saat ini sedang sibuk mempersiapkan diri mengikuti ujian semester di sekolahnya.

Cerita ini berawal ketika sang Suami secara diam-diam telah menjalin hubungan dengan seorang pegawainya di kantor. Entah karena sudah bosan dengan Istrinya yang kini sudah tidak muda lagi, atau karena memang sosok wanita di kantor yang tiap hari ditemuinya telah menarik perhatiannya. Mereka pun merencanakan untuk menikah dan sudah saatnya menyampaikan hal ini pada sang Istri (Amy).

Malam itu, sepulang dari kantor sang Suami langsung menemui Istrinya yang sedang menyiapkan makan malam. Sambil menggenggam tangan sang Istri, dia menyampaikan bahwa ada yang ingin dia bicarakan. Sang Istri pun duduk dengan tenang sambil memandang sang Suami. Melihat matanya yang sayu, sang Suami menjadi bingung ingin mulai dari mana. Namun dia memberanikan diri untuk menyampaikan maksud dan tujuan untuk menceraikannya.

“Aku ingin kita cerai”, ucapnya dengan lirih.
“Tapi kenapa?”, Amy membalasnya.

Dia tidak bisa menjelaskan alasan yang mungkin bisa membuat Istrinya marah. Mereka pun diam membisu, tidak bertegur sapa hingga sang Istri pergi ke kamar tidur dengan deraian air mata. Sang Suami tahu bahwa Istrinya pasti ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dan membuat lelaki yang sudah dinikahinya selama sepuluh tahun itu ingin menceraikannya. Namun dia tidak bisa memberitahunya. Bagaimana mungkin dia manyampaikan bahwa kini dia telah jatuh cinta kepada orang lain?.

Dia memberikan draft surat cerai yang memberitahukan bahwa Istrinya akan mendapatkan hak atas kepemilikan rumah, mobil dan 30% dari saham perusahaannya. Namun sang Istri merobeknya menjadi berkeping-keping karena tak kuasa. Sang Suami sedikit terharu dan merasa bersalah melihatnya, namun apa boleh buat dia tidak mungkin menarik kembali ucapannya.

“Aku jatuh cinta pada Jane, salah satu karyawan di kantor”, ucapnya lirih. Amy pun menangis dengan keras di hadapannya mendengar hal itu, seperti yang sudah dia perkirakan. Malam pun berlalu tanpa ada pembicaraan lagi antar keduanya.

Keesokan harinya, dia sengaja pulang agak larut setelah menghabiskan malam bersama Jane. Ia melihat Amy sedang duduk di meja menulis sesuatu. Namun karena tidak tahu apa yang ingin dibicarakan, dia pun langsung ke kamar untuk tidur. Ketika terbangun, dia mendapati Istrinya masih duduk di meja dan terus menulis. Namun terus terang dia tidak menghiraukannya dan kembali melanjutkan tidurnya.

kisah nyata mengharukan suami istri selingkuh

Pagi harinya, Amy menyampaikan beberapa syarat mengenai perceraiannya. Ia tidak menginginkan apapun yang berbau materialistic. Ia hanya ingin selama 30 hari ke depan, mereka menjalani kehidupan rumah tangga senormal mungkin. Alasannya simple, Anak mereka sedang menjalani ujian selama bulan ini, dan ia tidak ingin mengganggu konsentrasinya dengan issue perceraian orang tuanya. Tentu saja itu bisa diterima oleh sang Suami. Namun Ia mengajukan syarat lainnya. Ia menanyakan apakah Suaminya masih ingat ketika hari pernikahan, dimana Suaminya menggendongnya dari ruang ganti hingga menuju lorong depan rumahnya?.

Ia ingin selama 30 hari ke depan, Suaminya menggendongnya dari kamar hingga depan pintu rumah. Setiap harinya seperti saat pernikahan mereka dulu. Meski terdengar agak konyol, sang Suami pun menyetujuinya, itung-itung agar hari-hari terakhirnya bersama Amy berjalan dengan baik. Dia pun menceritakan perihal permintaan konyol Istrinya itu kepada Jane, yang menanggapinya bahwa permintaan Istrinya itu sangat konyol dan aneh. Jane menambahkan bahwa mau tidak mau Amy harus siap menghadapi perceraiannya itu, apa pun trik yang ingin dia tunjukkan itu.

Sejak saat itu, sang Suami sudah tidak pernah kontak badan lagi dengan Amy. Di hari pertamanya (ritual gendong-menggendong itu), mereka terlihat sangat kaku dan canggung. Si anak yang melihatnya pun mengomentarinya dengan senang, “ Horee, Ayah menggendong Ibu dengan lengannya”. Mendengar hal ini sang Suami menjadi agak sedih. Dia membayangkan bagaimana saat anaknya tahu kalau mereka akan segera bercerai. Dia pun meneruskan menggendong Amy hingga ke depan pintu rumah. Sebelum menurunkannya, sang Istri berbisik, “Jangan sampai ia tahu tentang perceraian kita”.

Kisah nyata mengharukan suami istri ini pun berlanjut

Keesokan harinya, ‘ritual’ ini pun berlanjut, namun kini mereka sudah terlihat sedikit tidak kaku dan tidak canggung. Amy menyilangkan lengannya ke leher dan pundak sang Suami, hingga aroma parfum yang ia kenakan di blouse tercium oleh Suaminya. Suaminya sadar bahwa dia sudah lama tidak memperhatikan wanita yang digendongnya itu. Dia menyadari bahwa kini Istrinya itu sudah tidak muda lagi. Terlihat guratan lembut di wajahnya dan rambutnya yang kini tampak berwarna abu-abu (memutih kalau kita mah). Sesaat, dia berfikir tentang apa yang telah dia lakukan pada Istrinya itu.

kisah nyata mengharukan suami istri gendong

Di hari keempat, dia mulai bisa merasakan gairah itu datang kembali. Dia memandangi sosok Amy yang sudah 10 tahun terakhir memberikan hidup untuknya dan sang anak. Di hari kelima dan keenam, sang Suami menyadari bahwa sebenarnya dia masih mencintai Istrinya itu. Namun dia tidak menceritakan apa yang dirasakannya saat itu kepada siapa pun, baik kepada Amy maupun Jane. Dia juga menyadari bahwa di hari-hari terakhirnya, dia semakin mudah menggendong Amy. Mungkin rutinitas dalam beberapa hari terakhir membuatnya terbiasa dan semakin kuat?

Suatu pagi, saat mereka bersiap untuk ganti baju, dia mendapati Istrinya sedang kesulitan mencari pakaian yang pas. Pakaian yang biasanya pas kini sudah terlihat longgar. Hal itu sedikit membuatnya terkejut, di tidak menyadari bahwa Istrinya kini terlihat semakin kurus. Hal itulah ternyata yang membuatnya semakin mudah menggendongnya. Sesaat kemudian, anak mereka menghampiri ke kamar sambil berkata,”Yah, sekarang sudah saatnya menggendong Ibu keluar”. Baginya, melihat sang Ayah menggendong Ibunya merupakan salah satu momen terpenting dalam hidupnya. Amy mendekati anaknya dan memeluknya dengan erat. Sementara sang Suami memalingkan wajahnya karena takut perasaan itu makin membuatnya merasa bersalah.

Kemudian sang Suami pun menggendong Amy keluar dari kamar menyusuri lorong rumahnya menuju pintu depan. Amy melingkarkan lengannya dengan lembut dan mengingatkannya saat pertama kali menikah dulu. Di hari terakhir moment gendong-menggendong itu, sang Suami merasa berat sekali untuk melangkah. Berat tubuh Amy yang semakin berkurang kini membuatnya sedih dan semakin menarik perhatiannya. Dengan lembut dia mengangkat Amy dan mulai menggendongnya sambil membisikkan sesuatu, “ Aku minta maaf atas semuanya. Aku tidak menyadari betapa intimnya hubungan kita”.

Dia pun bergegas pergi menuju mobilnya dan sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Setibanya di kantor, dia langsung melompat dari mobil dan langsung menuju ruangan Jane sambil berkata dengan sangat jelas :

“Maaf Jane, aku tidak mau lagi menceraikan Istriku, Amy. Aku sangat mencintainya dan aku baru menyadarinya selama 30 hari terakhir ini. Bahwa aku telah membawanya pulang ke rumahku sejak hari pernikahan, dan berjanji akan terus bersamanya, menjaganya, hingga akhir hayat nanti. Dan itulah yang seharusnya aku lakukan”.

Dia lalu bergegas meninggalkan kantor itu dan langsung menuju toko bunga, membelikan bunga special untuk sang Istri. Tertulis di kartu yang diselipkan dalam ikatan bunga itu, “Aku akan tetap menggendongmu setiap pagi hingga ajal memisahkan kita”.

Sore itu, dia tiba di rumah. Dengan seikat bunga di tangan dan senyuman di wajah, dia menemukan gairah hidupnya yang penuh cinta itu kembali. Dia bergegas menaiki tangga menuju kamar Istrinya, dia dapati Istrinya, Amy sedang terbaring di tempat tidur – Mati. Dia tidak menyadari bahwa selama beberapa bulan terakhir Istrinya tengah bergelut dengan kanker yang dideritanya. Dia tidak menyadarinya karena asik menghabiskan sebagian besar waktunya dengan Jane, selingkuhannya di kantor. Istrinya tahu bahwa waktunya sudah tidak lama lagi, makanya ia mengajukan permintaan terakhir yang sangat berarti untuknya. Dia ingin memastikan anaknya melihat bahwa Ayahnya adalah sosok seorang Suami yang penuh cinta dan patut dibanggakan. Menggendong Ibunya dengan gentle ke depan pintu setiap harinya.

“MARRIAGE is sharing life with your best friend, enjoying the journey along the way, and arriving at every destination,..Together”, Fawn Weaver.

Demikianlah kisah mengharukan suami istri yang sangat menyayat hati. Tidak ada kata terlambat untuk mengungkapkan rasa cinta kepada pasangan. Berfikirlah ulang jika ada niatan untuk bercerai dengan orang terkasih. Silahkan dishare kisah ini jika dirasa bermanfaat dan bisa memberi inspirasi.

Sumber : Video posting on Facebook by Micko Newell

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here