Kisah nyata inspiratif yang akan menampar muka anda

0
615

kisah nyata inspiratif memalukan

Kisah nyata inspiratif berikut sepintas memang tidak begitu special dan terkesan biasa-biasa saja. Bukan berarti tidak ada nilainya, namun pola pikir kita saja yang udah sejak lama keblinger hingga tidak bisa berpikir dengan jernih. Ehmm, tapi belum bisa dibilang gila sih.

Bukan sekedar isapan jempol, kejadian serupa pasti pernah anda lihat atau bahkan anda alami sendiri (kalau berani jujur). Dan kalau anda ‘MAU’ memikirkan saja barang sejenak (khususnya Ibu-ibu nih, heheee), saya yakin anda akan merasa malu dan mudah-mudahan bisa berubah dalam menyikapi fenomena ini. Yuk kita simak dengan seksama 2 kejadian berikut.

 

Kisah nyata inspiratif part 1 : Tukang sayur keliling

Pagi itu terlihat bang Memet si penjual sayur keliling yang memang sering lewat di komplek ini. Tampak Ibu-ibu dari warga sekitar sedang mengerumuni gerobaknya. Ada yang membolak-balik sayuran, ikan, dan juga bumbu dapur seperti bawang, tomat, dan cabe keriting. Terlihat jelas wajah riang bang Memet yang dari tadi melayani para pembeli yang silih ganti berdatangan.

Tiba-tiba datanglah Bu Rokayah, juragan kontrakan sebelah yang terkenal banyak duit itu ikut menghampiri dagangan bang Memet. Tidak seperti biasanya, tumben-tumbenan Ibu ini belanja sendiri karena sebenernya beliau memiliki 2 asisten rumah tangga yang salah satunya sudah langganan belanja dimari, mbak Indri namanya si pemilik wajah manis dan imut itu, jiaaahhhh. Eh baru inget, kan mbak Indrinya udah pamit balik kampung kemarin karena bentar lagi udah lebaran, heheee.

Tak mau kehabisan, Bu Rokayah pun langsung mengambil 2 ikat kangkung sambil bertanya pada bang Memet, “Berapa duit ini bang?”. “3 ribu seiket nya Bu”, balas bang Memet singkat. Tanpa basa-basi, Bu Rokayah pun menimpalinya kembali, “2 ribu ya, kalau gak boleh ya sudah gak jadi beli,!”. Wajah bang Memet mendadak muram. Tampak Ibu-ibu lainnya juga bengong mendengar percakapan mereka. Namun karena hari sudah semakin siang dan sudah saatnya kembali pulang, bang Memet pun dengan terpaksa menjualnya dengan harga 2 ribu seiketnya (dari pada nanti layu dan dibawa pulang lagi, malah rugi saya, pikirnya dalam hati).

 

Kisah nyata inspiratif part 2 : Datang Kurir KFC

Malam itu sekitar pukul 20:40, datanglah seorang kurir KFC dengan motornya menghampiri kami yang sedang duduk-duduk santai di parkiran depan kostan. Dia menanyakan rumah Bu Rokayah si pemesan paket delivery KFC yang dibawanya. Kami pun mengarahkan ke rumah sebelah yang tampak terang dengan pagar yang menjulang tinggi. “ Itu mas rumahnya, pencet aja belnya di sebelah kiri situ”, paparku.

Tidak lama setelah bel itu dipencet, keluarlah Bu Rokayah sambil membuka pintu pagar. “Berapa total semuanya?”, tanya Bu Rokayah. “Jadi totalnya 236 ribu”, balas kurir itu sambil menyodorkan struk KFC yang terlihat panjang itu. Beliau pun memberikan uang 250 ribu ke si Kurir sambil mengambil 2 kantong paket KFC. “Sebentar Bu ya, saya ambilkan kembaliannya”, ucap mas Kurir sambil merogoh dompet yang ia selipkan di celananya. “Udah gak usah mas, ambil aja”, Beliau menimpali. Mas Kurir pun mengucapkan terima kasih dan dengan muka senyum meninggalkan rumah Bu Rokayah dan berpamitan pada kami.

 

Makna dibalik 2 kisah nyata inspiratif di atas

Dari 2 kejadian di atas, kita bisa melihat bahwa sosok Bu Rokayah ini terihat begitu perhitungan terhadap bang Memet si pedagang sayur keliling, hingga selisih uang seribu pun ditawarnya. Padahal kalau dipikir-pikir keuntungan yang di dapat bang Memet ini terbilang gak seberapa. Sementara pada kejadian ke-dua, tampak Bu Rokayah dengan mudahnya memberikan kembalian pesanan KFC sebesar 14 ribu kepada si Kurir. Tampak ketidak sesuaian di sini.

Atau untuk lebih mempertegas lagi, pernahkah kita menemukan pedagang keliling lainnya di sekitar kita (penjual ubi rebus, penjual jagung rebus, penjual buah, dll), dan kita tanpa segan menawar harga dagangan mereka yang sebenarnya kalau dipikir-pikir keuntungan mereka tak seberapa tho?.

Juga coba kita ingat-ingat ketika sedang makan bareng di restoran, nongkrong di kafe, atau tempat karaoke dan sejenisnya. Sering kali kita dengan entengnya memberikan tips kepada pramusaji, GRO, atau lainnya dengan uang puluhan atau bahkan ratusan ribu. Saat belanja di mall, toko, counter HP dan lainnya kita juga terkadang segan menawarnya meskipun harga barang tersebut terbilang cukup mahal. Apakah itu terlihat wajar? Bisa jadi. Karena kita sudah terbiasa dengan pola hidup hedonis yang sedemikian rupa sehingga secara tidak sadar telah mengebiri rasa empati dan kepekaan terhadap sesama.

Jadi, coba mulai sekarang kita lebih peduli terhadap mereka yang layak diberikan empati. Jangan lagi suka tawar menawar terhadap barang jualan para pedagang asongan. Bukan ratusan ribu apalagi jutaan yang mereka dapatkan, namun hanya belasan hingga puluhan ribu yang ia harapkan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Baca juga kisah inspiratif lainnya mengenai Keutamaan bersikap jujur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here