Kisah nyata inspiratif susahnya menjadi seorang Istri

0
442

kisah nyata inspiratif susahnya menjadi istri

Setelah membaca kisah nyata inspiratif sebelumnya mengenai keutamaan bersikap jujur, kali ini kita akan  belajar dari kisah inspiratif lainnya mengenai susahnya menjadi seorang Istri. Yups, anda tidak salah dengar, SUSAH-nya menjadi seorang Istri, terutama jika dalam sebuah keluarga sudah memiliki momongan alias balita.

Memang benar jika ada sebagian pria alias para Suami yang kurang memahami akan hal ini. Jadi ketika sang Istri sedikit mengeluh tentang kepenatannya dalam mengurus rumah tangga, tak jarang para suami ini menyindirnya dengan celetukan yang sedikit menyinggung seperti, “Capek apaan sih, wong yang kerja cari duit itu saya. Kamu kan hanya diam aja di rumah”. Hmm, sangat ‘greget’ mendengarnya meskipun saya sendiri seorang laki-laki ya, heheheee.

 

Awal mula kisah nyata inspiratif ini

Diceritakan bahwa ada seorang Suami sebut saja namanya AA. Suatu hari dia pulang ke rumah Ibunya tanpa sepengetahuan sang Istri. Sang Ibu yang merasa heran kemudian bertanya pada anaknya.

Ibu      : “Tumben kamu nak sendirian. Mana anak dan Istrimu?”
AA       : “Saya lagi marahan Bu. Saya heran aja sama Istri, pekerjaan di rumah tidak pernah beres. Malah bisa-bisanya dia bilang capek ke aku. Padahal yang kerja tiap hari kan aku, dia mah enak-enakan di rumah gak ngapa-ngapain. Udah gitu gak pernah dandan lagi, gak kayak dulu lagi”.

Ibu      : “Hmm, gitu. Coba Ibu telpon dia”.
Setelah beberapa saat, dihampirilah anaknya itu.
AA       : “Gimana bu, udah dimarahin kan?”
Ibu      : “Sudah”

Keesokan harinya, saat AA pulang ke rumah didapatinya anaknya sedang bermain lumpur di depan rumah, masih memakai baju yang kemaren, belepotan dan hampir aja terperosok ke saluran air (got). Tidak sampai di situ, saat menggendongnya masuk rumah, sang adik juga udah berantakin tuh isi rumah yang terpajang di ruang tamu. Isi kulkas dan barang-barang di dapur juga gak kelewatan di acak-acaknya. Belum lagi dilihatnya pakaian dan piring kotor masih menumpuk di pojokan.

Hmmm, kemarahannya makin memuncak ketika melihat sang Istri hanya tidur-tiduran santai di kamar sambil dengerin music dari hand phone nya. Karena udah gak bisa menahan amarahnya lagi, AA kemudian memutuskan pergi membawa kedua anaknya menuju rumah Ibunya. Sesampainya di sana, dia langsung mengumpat keras soal Istrinya didepan sang Ibu.

AA       : “Dasar Istri gak tahu diri. Bisa-bisanya dia enak-enakan di rumah, sementara anak-anaknya udah bikin isi rumah berantakan. Belum lagi banyak pakaian dan piring kotor menumpuk. Baru ditinggal sehari aja udah makin ngelunjak dia, mau enak-enakkan di rumah”.

Ibu      : “Ibu tahu koq”.
AA       : “Maksud Ibu?”
Ibu      : “Memang Ibu yang menyuruh dia diam saja di rumah dan ‘Gak Ngapa-ngapain’”.

Nasehat Ibu tentang pengorbanan seorang Istri

Setelah menceritakan kronologis sebenarnya kepada AA, sang Ibu kemudian menasehatinya dengan pelajaran yang sangat berharga.

“Anakku, memang benar Ibu yang menyuruh Istrimu untuk tidak melakukan apa-apa seharian. Dan kamu bisa lihat, semua menjadi berantakan. Anak-anakmu yang bandel itu sudah berhasil mengacak-acak rumahmu. Bahkan kamu sendiripun sudah merasa kewalahan untuk mengurusnya barang sejenak saja. Belum lagi pakaian dan peralatan dapur kotor yang menumpuk. Kamu pun mungkin akan nyerah jika diminta untuk membereskannya. Dan itulah yang akan terjadi jika istrimu tidak melakukan apa-apa seperti yang kau tuduhkan padanya.

Sekarang kamu bayangkan bagaimana Istrimu melakukan itu semua, setiap hari. Bahkan setelah dia membereskan semuanya, dia masih sempat membuatkanmu teh saat kau pulang. Dia tidak lagi menghiraukan capek dan kepenatannya meskipun anak-anakmu yang bandel itu dan berbagai pekerjaan rumah sudah menguras tenaganya. Jadi, salahkah jika dia sekedar ingin mengutarakan kepenatannya itu?

Janganlah kamu membandingkan Istrimu dengan wanita-wanita lain di luar sana yang menurutmu lebih menawan, bahenol, dan terlihat cantik. Tak ada lagi waktu bagi Istrimu untuk sekedar pergi ke salon, merawat diri dan berdandan. Bukannya tidak mau, namun semua waktunya kini habis untuk mengurusi kamu dan anak-anakmu. Kena siraman air mandi aja sudah dianggapnya sebagai penghillang penat hari ini.

Dan satu lagi. Dia bisa saja mendapatkan pekerjaan kantoran sepertimu. Bergaul dengan teman-temannya, pergi ke salon, belanja ke mall, dan lainnya. Namun semua itu dia korbankan hanya untuk mengurus kamu dan anak-anakmu. Jadi, hargailah pengorbanan Istrimu yang sedemikian rupa hingga mengorbankan semua waktu dan keinginannya”.

Mendapat nasehat seperti itu, sang Suami mulai menitiskan air mata. Dia mulai menyadari bagaimana susahnya menjadi seorang Istri dan tanpa sadar ia teringat akan Istrinya yang sudah mengorbankan segalanya untuk dia dan keluarganya. Ia tak sabar ingin kembali ke rumah dan meminta maaf pada Istrinya itu, hingga saat mau membuka pintu, didapatinya sang Istri sudah berdiri di depannya.

AA       : “ Sayang,.. maafin aku yang sudah bersikap keterlaluan ke kamu. Aku janji akan membantumu dalam mengurus anak-anak di sela kesengganganku saat di rumah.” Ucapnya sambil memeluk sang Istri.

Kesimpulan

Jadi, untuk para Suami pahamilah bahwa menjadi seorang Istri dan Ibu rumah tangga itu sangatlah tidak mudah. Pahamilah bahwa ketika dia ‘Sedikit’ mengeluh tentang kepenatannya itu berarti dia hanya ingin sekedar mendapat perhatianmu. Manjakan dan hiburlah dia untuk sekedar menghilangkan lelah dan penatnya. Dan yang lebih penting, jangan sampai kamu tergoda oleh wanita lain di luar sana hanya karena Istrimu sudah tidak pernah berdandan lagi.

Berikut gambaran susahnya menjaga anak-anak di rumah.

Sekian kisah nyata inspiratif mengenai susahnya menjadi seorang Istri. Semoga bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua, khususnya para Suami. Jangan lupa dishare jika dirasa bisa memberikan inspiratif dan kebaikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here