Kisah Nabi Muhammad SAW dan Pengemis Buta Yahudi

0
505

kisah nabi muhammad saw dan pengemis buta yahudi

Kisah Nabi Muhammad SAW dan seorang pengemis Yahudi buta ini saya tulis ulang setelah membaca berbagai sumber. Cerita ini menurut saya layak sekali untuk dishare dan dibagikan sebanyak mungkin mengingat akhir-akhir ini banyak sekali issue sara yang beredar di masyarakat. Bukan hanya beredar, namun sudah mulai masuk ke ranah politik sehingga sering kali dimanipulasi dan dirancang sedemikian rupa untuk menjatuhkan atau menyerang kelompok tertentu.

Perlu saya tegaskan, bukan berarti saya ingin melupakan kasus penistaan agama yang baru saja terjadi di Jakarta. Untuk kasus itu biarlah pihak kepolisian yang mengurusnya karena ini adalah negara hukum. Saya hanya ingin menegaskan bahwasanya Agama Islam tidak mengajarkan sesuatu yang bersifat rasis atau tindakan berbau sara.

Aksi demo kemarin yang meluas di berbagai wilayah NKRI adalah aksi protes terhadap ‘SIKAP’ seorang Gubernur yang dianggap melecehkan Alqur’an dan Ulama’ dengan statement nya yang beredar luas di dunia maya. So, tidak ada hubungannya sama sekali dengan urusan Pilkada, Tionghoa, maupun Agama Nasrani. Umat Islam memang sangat marah dengan statement sang Gubernur, bukan karena dia Tionghoa, bukan karena dia Non Muslim, tapi karena kata-kata yang dia ucapkan sendiri. Seperti kisah Nabi Muhammad SAW bersama Pengemis yahudi yang buta ini. Beliau sama sekali tidak membedakan ras dan agama, karena Agama Islam dan mungkin semua Agama pasti mengejarkan tentang kasih sayang dan saling menghormati.

Kisah Nabi Muhammad SAW dan Pengemis Buta

Dikisahkan ketika itu pemerintahan Islam sedang dalam masa kejayaan di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Pasarpun sangat ramai dengan orang yang melakukan transaksi jual beli. Tidak hanya orang Muslim, orang Non Muslim pun bebas melakukan transaksi jual beli di sana.

Di sebuah pojokan pasar, hiduplah seorang Pengemis Buta berkebangsaan Yahudi. Setiap harinya dia bisanya ngoceh saja sambil menghujat Nabi Muhammad SAW. Sebagian besar masyarakat tidak mempedulikannya, bahkan ada Sahabat Nabi yang saking geregetannya ingin menghajar pengemis itu. Namun untungnya Sahabat yang lain segera mencegahnya.

Dengan seksama mereka memperhatikan bahwa ternyata Nabi Muhammad sedang melewati pasar dan memberikan sumbangan kepada pengemis itu. Tidak cukup sampai di situ, beliau pun dengan lemah lembut menyuapi pengemis yang saban hari menghujatnya. Bahkan saat disuapin Nabi, pengemis itu tanpa henti-hentinya terus mencela dan mengata-ngatai sang Nabi. Dia bilang seorang penyihir lah, tukang tipu lah, dan bermacam-macam umpatan lainnya. Namun Nabi Muhammad tetap denagn telaten menyuapinya dengan santun.

Kejadian seperti ini pun berulang sekian lama tanpa si pengemis mengetahui bahwasanya yang suka memberinya sumbangan dan menyuapinya adalah sosok Nabi Muhammad sendiri. Orang yang selalui dicela dan diolok-oloknya. Dia pun memuji bahwa belum ada seorang pun yang baik dan santun seperti orang yang saban hari menyuapi dan memberinya sumbangan.

Hingga suatu masa nabi Muhammad SAW wafat. Tidak ada lagi orang yang dengan sabar dan penuh perhatian menyuapi dan memberinya sumbangan. Dia pun merasa merindukan sosok yang selama ini membantunya.

Giliran Sahabat Abu Bakar yang menyambanginya

Sepeninggal beliau, kini kekhalifahan Islam dilanjutkan oleh Abu Bakar As-Shiddiq. Suatu hari, Abu Bakar menyambangi Anaknya yaitu Aisyah yang merupakan Istri nabi Muhammad SAW. Beliau menanyakan apakah ada sekiranya amalan atau kegiatan nabi yang dia tidak ketahui atau belum diamalkannya. Aisyah pun mengatakan bahwa semua amalan telah beliau lakukan kecuali satu hal.

Diceritakanlah kebiasaan nabi Muhammad yang suka memberi sumbangan dan memberi makan kepada seorang Pengemis buta berkebangsaan Yahudi di pasar itu. Beliau (Abu Bakar) pun segera menyambangi pasar itu dan segera menghampiri pengemis yang diceritakan. Beliau memberi sumbangan dan segera menyuapinya makan. Awalnya pengemis itu menyangka bahwa yang datang itu adalah ‘SOSOK’ yang biasanya memberinya makan. Dia pun menanyakan kenapa sudah beberapa hari ini tidak datang. Dengan terus nyeloteh dan menghujat Nabi Muhammad SAW, dia meneruskan melahap makanan yang disuapin oleh Abu Bakar.

Abu Bakar pun sedikit kesal ketika pengemis itu dengan lantang terus mencemooh Nabi Muhammad dan menjelek-jelekkannya. Hingga suapannya pun berubah menjadi sedikit kasar. Pengemispun akhirnya menyadari bahwasanya yang saat ini sedang menyuapinya bukanlah sosok yang biasanya.

‘Siapakah kamu? Kamu bukanlah orang yang biasanya menyuapiku’, ucapnya.
‘Dari mana kau tahu?’, tanya Abu Bakar.
Dia selalu menyuapiku dengan lemah lembut, sopan, dan tak henti-hentinya selalu membuatku berbesar hati. Sungguh dia adalah sebaik-baik manusia yang pernah ku kenal, bahkan melebihi saudaraku sendiri’, lanjutnya.

‘Ke mana dia sekarang. Sudah beberapa hari dia tidak mendatangiku. Sungguh aku sangat mengharapkannya datang menemuiku’, imbuhnya lagi.
‘Dia sudah meninggal beberapa hari yang lalu’, ucap Abu Bakar.
‘Benarkah ucapanmu itu?’, tanyanya serius.
‘Benar. Bahkan aku sendiri ikut menguburkannya’, balas Abu Bakar.

Si Pengemis itu pun sangat sedih mengetahui bahwa orang yang sangat baik hati itu telah meninggal dunia. Padahal dia sendiri tidak sempat menanyakan namanya selama ini. Bahkan ia masih sempat membanding-bandingkannya dengan nabi Muhammad. Coba saja kalau nabi Muhammad bisa sebaik dia. Coba saja biar Nabi Muhammad saja yang meninggal, bukan orang baik itu, dan macem-macem lagi lah.

‘Apa benar kamu tidak tahu siapa dia?’, tanya Abu Bakar.
‘Aku sama sekali belum pernah menanyakan namanya’, balasnya singkat.
‘Lalu kamu siapa?’, tanyanya kepada Abu Bakar.
‘Aku adalah Sahabatnya, namaku Abu Bakar Shiddiq’, jawab Abu Bakar.
‘Lalu orang yang selama ini menyuapiku dan selalu berbuat baik padaku?’, tanya pengemis itu.
‘Dia lah Muhammad Rosulullah’, jawab Abu Bakar.

Mendengar jawaban dari Abu Bakar, si Pengemis pun terkejut dan menggigil sambil menangis. Tak disangkanya bahwa orang yang selama ini diagungkannya, dipujinya, banyak berbuat baik padanya, dengan penuh telaten dan kasih sayang menyuapinya, mengajaknya bicara, meneguhkannya, adalah orang yang sama yang dijelek-jelekkan, dicemooh, dihujat, dan dimaki-makinya, yakni nabi Muhammad SAW.

Dia pun dengan segera mengucap Syahadat dan menerima Islam sebagai Agamanya setelah mengetahui bahwa sosok manusia terbaik yang dikenalnya itu tak lain adalah nabi Muhammad SAW.

Kesimpulan kisah Nabi Muhammad SAW dan Pengemis buta Yahudi

Dari kisah di atas, dapat diambil pelajaran bahwasanya Nabi Muhammad SAW sangatlah menghormati orang lain, tak peduli agamanya apa, bangsanya apa, bahkan terhadap orang yang selalu mengolok-oloknya, menjelek-jelekkannya. Sebuah tauladan yang sepatutnya bisa kita ikuti dan diterapkan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Terlebih di negara yang memiliki berbagai macam suku, bangsa dan agama seperti Indonesia ini.

Kebaikan dan sikap beliau mampu merubah seseorang. Jadi, stop untuk saling menghujat, saling menjatuhkan, hanya demi meraih kekuasaan poitik tertentu. Adili siapa pun yang menistakan agama. Mari sama-sama kita awasi penegakan hukum di negara kita. Jangan sampai hukum dirasa tumpul ke atas namun runcing ke bawah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here