Kisah Islami penuh hikmah tentang sebutir nasi

0
335

kisah islami penuh hikmah tentang sebutir nasi

Kisah Islami penuh hikmah ini bercerita tentang betapa berharganya sebutir nasi, yang terkadang bagi kebanyakan orang dianggap remeh, termasuk Penulis sendiri, hihihiii.

Cerita bermula ketika seorang Maulana Habib Lutfi Bin Yahya melakukan perjalanan dalam mencari Ilmu dan bertemu dengan seorang Kyai Sepuh.

Sang Habib Muda merasa keheranan ketika melihat perilaku Kyai Sepuh yang menunjukkan akhlak yang luar biasa. Ia menyaksikan sang Kyai sedang makan dan mengambil kembali butiran nasi yang terjatuh, dimasukkannya ke dalam piring untuk dimakan kembali. Sontak, Sang Habib Muda pun membuka pembicaraan dengan bertanya kepada Kyai Sepuh.

Kisah Islami penuh hikmah pun berlanjut

Habib Muda  : “Kenapa harus diambil Yai, kan hanya nasi sebutir?”
Kyai Sepuh   : “Lho, jangan dilihat dari sebutir nasinya Yik (nama panggilan Habib Muda). Apa kamu bisa bikin nasi yang sebutir ini bahkan hanya seperseribu menirnya saja?”

Deg, Sang Habib Muda pun langsung terdiam sambil menyimak kembali apa yang akan dikatakan oleh Sang Kyai.

Kyai Sepuh   : “Ketahuilah Yik, ketika kita makan nasi itu sungguh Gusti Allah telah menyatukan banyak sekali peran. Nasi itu namanya Sego Bin Beras Bin Gabah Al Pari. Mulai dari mencangkul, menggaru, menanam benih, memupuk, membersihkan hama, hingga memanen ada jasa dari sekian banyak orang. Kemudian ketika mengolah gabah menjadi beras, kemudian beras menjadi nasi juga banyak sekali peran hamba Gusti Allah di sana”.

Sang Kyai pun melanjutkan :

“Ketika ada sebutir nasi atau bahkan menir sekalipun yang jatuh, ambillah. Jangan mentang-mentang masih banyak cadangan nasi kita terus membiarkannya. Itu bentuk dari sifat Takabur, dan Gusti Allah tidak menyukai manusia yang takabur. Jadi, selama tidak kotor dan membawa mudhorot bagi kesehatan kita, ambillah dan satukan dengan nasi lainnya sebagai bentuk rasa syukur kita”.

Makna di balik doa saat makan

Sambil menyimak lebih dalam, Sang habib Muda pun dengan antusias terus mendengarkan penjelasan Kyai Sepuh.

“Karena itulah ketika akan makan, kita diajarkan doa : Allahumma bariklana (Ya Allah, semoga Engkau memberkati kami). Bukan : Allahumma barikli (Ya Allah, semoga Engkau memberkatiku), meskipun kita sedang makan sendirian”.

“Lana itu maksudnya untuk semua, mulai dari Petani, pengangkut, pedagang, pemasak, hingga yang menyajikan. Semuanya termaktub dalam doa tersebut. Jadi, doa tersebut merupakan ucapan syukur serta mendoakan semua orang yang terlibat atau berperan dalam kehadiran nasi yang kita makan”.

Sang Kyai pun meneruskan penjelasannya :

“Satu lagi, mengapa wong urusan makan koq ada doa : Waqina ‘adzaban nar? (jagalah kami dari siksa api neraka). Apa hubungannya? Makan koq dengan neraka? Kan gak nyambung”.

“Nggih Yai, kok bisa ya?”, tanya Habib Muda penasaran.

“Begini Yik, kita makan itu hanyalah wasilah saja. Yang memberi kenyang itu Gusti Allah. Kalo kita makan dan menganggap bahwa yang mengenyangkan itu adalah makanan yang kita makan, maka takutlah, karena itu akan menjatuhkan kita pada kemusyrikan, yaitu dosa terbesar bagi orang beriman”, imbuh Pak Kyai.

“Astaghfirullah al ‘Adhim,…” batin sang Habib Muda yang tidak menyangka bahwa maknanya akan sedalam itu.

Keterangan:
Kisah di atas diambil dari dawuh Habib Lutfi Bin Yahya-Pekalongan, 22 Januari 2017

Sumber : Postingan Facebook dari akun Bagus Irawan https://web.facebook.com/profile.php?id=100009396554107

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here