Begini cara menanggapi gempa bumi pada zaman nabi dan sahabat

0
6352

cara menaggapi gempa bumi

Gempa bumi menjadi bahan pemberitaan yang cukup ramai dalam beberapa bulan terakhir. Pasalnya, tak seberapa lama berselang dari musibah gempa bumi yang melanda Lombok, kini musibah itu datang kembali di Palu, Sulawesi Tengah.

Berbagai macam tanggapan diberikan oleh berbagai pihak mengenai kejadian ini. Salah satu yang cukup viral adalah berkenaan dengan status seorang Ibu di Palu yang menulis dalam akun Facebooknya.

Di situ ia menulis bahwa meski Palu ditimpa gempa bumi sekalipun, ia akan tetap mendukung Pak Jokowi 2 periode. Begitulah kurang lebih isi tulisannya beberapa hari sebelum gempa bumi melanda Palu.

Sontak banyak netizen yang mengkait-kaitkan tulisan Ibu tersebut, dan menganggap bahwa sesumbarnya dibayar tunai oleh Allah.

Ada juga yang megait-ngaitkan bahwa bencana gempa bumi di Palu kali ini berhubungan dengan banyaknya komunitas LGBT yang jumlah anggotanya cukup banyak di kota tersebut. Ini adalah azab dari Allah. Begitu tanggapannya.

Lalu, ada juga pemberitaan yang sempat tersebar bahwa gempa bumi yang cukup dahsyat juga akan menghantam pulau jawa. Bahkan warga Jakarta pun diminta untuk siap-siap akan potensi terjangan tsunami jika gempa bumi tersebut benar terjadi.

Hal ini berkaitan dengan lokasi pulau jawa yang berada tepat di jalur cincin api. Namun berita ini dibantah langsung oleh perwakilan BMKG, karena berita tersebut sebenarnya berita lama yang dikemas kembali di masa ramainya kejadian gempa seperti sekarang ini.

Lalu bagaimana sebenarnya cara menanggapi gempa bumi ketika pada zaman nabi dan para sahabat dahulu?

Apakah benar Gempa Bumi merupakan teguran Allah kepada hambanya yg lalai dan suka berbuat maksiat? Ataukah hanya sekedar aktivitas alam biasa?

Berikut cara menanggapi gempa bumi yang dilakukan oleh nabi dan para Sahabat di zamannya.

Dikisahkan bahwa pada zaman Nabi Muhammad SAW pernah terjadi gempa bumi. Kemudian beliau letakkan tangannya ke tanah sambil berucap,

”Wahai bumi, belum saatnya bagimu,!!, Wahai bumi, belum saatnya bagimu,!!”.

Kemudian beliau berkata,”Maksiat apa yang telah kalian lakukan, sehingga Allah berikan gempa bumi ini kepada kita”.

Pada masa Sayyidina Umar Ibnu khattab juga pernah terjadi gempa. Apa yang beliau katakan?,

”Sungguh begitu cepat kita bermaksiat kepada Allah, sehingga Allah berikan gempa bumi ini kepada kita. Kalau besok ada gempa bumi lagi, saya tidak akan tinggal dengan kalian”.

Sayyidina Umar Bin Abdul Aziz beda lagi dalam menanggapi terjadinya gempa bumi. Beliau mengirim surat kepada seluruh Gubernur, begini tulisan suratnya,

“Wahai para Gubernur, bertaubatlah kepada Allah, dan sedekahkan harta kalian di jalan Allah SWT”.

Sayyidina Kaab Ibnu Malik juga memiliki tanggapan tersendiri terkait terjadinya gempa bumi. Beliau berkata,

“Tidaklah bumi berguncang, tidaklah bumi bergetar, kecuali terlalu banyak hamba-hamba Allah yang berbuat dosa di atasnya. Sehingga bumi bergetar, bumi berguncang, karena malu dan takut kepada Allah”.

Sayyidina Anas Ibnu Malik pernah bertanya kepada Sayyidatuna ‘Aisyah, beliau berkata,

“Wahai ‘Aisyah, bagaimana pendapatmu tentang gempa bumi?”. Kemudian dijawab oleh ‘Aisyah RA.

“Wahai Anas Ibnu Malik, apabila 3 perkara sudah meraja lela di mana-mana”.

Pertama adalah Khamr, minuman keras. Jika khamr sudah meraja lela di mana-mana. Yang tua mabok, yang muda mabok. Yang kaya mabok, yang miskin mabok. Di mana-mana mabok.

Yang kedua adalah Perzinahan. Apabila perzinahan meraja lela di mana-mana, pelacuran meraja lela di mana-mana.

Yang ketiga adalah ketika musik-musik dunia telah meraja lela di mana-mana. Orang lupa baca Qur’an, lupa dzikir, lupa tahlil, lupa tahmid, lupa tasbih, lupa takbir, lupa tamjid, lupa istighosah. Sibuk dengan musik-musik dunia.

Apabila ketiga perkara tadi sudah meraja lela, maka Allah berkata,

“Wahai bumi, berguncanglah engkau,!!”
“Wahai bumi, berguncanglah engkau,!!”
“Apabila mereka bertaubat, berhenti guncanganmu,!!”
“Apabila mereka tidak bertaubat, guncang merka sehingga binasa,!!”

Jadi, Allah SWT berikan gempa bumi karena terlalu banyak hamba-hamba yang berbuat dosa. So, ketika terjadi gempa bumi, jangan kamu bertanya,

“Ya Allah, kenapa Engkau kasih gempa bumi. Kenapa kau kasih tsunami. Kenapa Kau kasih banjir,”.

Tapi tanyakan pada diri kita sendiri. Berapa banyak perbuatan-perbuatan dosa yang telah kita lakukan.

Kemudian Sayyidina Anas kembali bertanya,”Apakah itu azab dari Allah?”

Sayyidah ‘Aisyah menjawab,”Bagi orang mukmin, bagi orang yang beriman kepada Allah, itu adalah nasihat dan rahmat dari Allah”.

“Sedangkan bagi orang-orang kafir, bagi orang-orang munafik, bagi orang-orang yang suka berbuat dosa, itu adalah bala’ dari Allah SWT”.

Demikianlah bagaimana cara menanggapi gempa bumi yang dilakukan oleh Nabi dan para Sahabat di masanya.

Setelah membaca pemaparan tadi, sudah sepatutnya kita melakukan instropeksi diri terhadap perilaku kita selama ini.

Mungkin ini adalah teguran dari Allah agar kita kembali ke jalan yang diridhainya. Meninggalkan segala maksiat mulai dari Khamr, perzinahan, hingga menjauh dari hingar bingar lantunan music yang membuat kita ‘Lupa’ kepada Allah.

Karena itulah 3 hal yang memicu diturunkannya gempa bumi jika kita mengimani terhadap apa yang disampaikan oleh Sayyidah ‘Aisyah RA.

Nah, bagaimana dengan anda yang tinggal di daerah yang secara jelas-jelas menjadi tempat peredaran Khamr, Perzinahan, dan hingar bingar music dugem yeng memekak kan telinga?

Waspadalah,..Waspadalah,..

Sumber: Ceramah Habib Bahar Bin Smith yang banyak beredar di Facebook akhir-akhir ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here